Di Balik English Fun Day

Saya dengar dan saya lupa, saya lihat dan saya ingat, saya lakukan dan saya paham, saya temukan dan saya kuasai (Confusius). Pemahaman itulah yang coba Relawan Lentera Negeri terapkan dalam kegiatan ENGLISH FUN DAY 6 yang berlangsung pada hari minggu, 7 Mei 2017 bertempat di Taman Hasanuddin Makassar. ENGLISH FUN DAY sendiri adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan dengan tujuan sebagai bahan evaluasi peserta didik di Sekolah Anak Negeri setelah beberapa bulan bergelut dengan kurikulum yg berbeda di tiap kelasnya. Kurikulum yang dibuat  sesuai kebutuhan peserta didik.

Di kegiatan kali ini ada yang berbeda dari English Fun Day sebelumnya. Dengan mengusung tema “Aku Cinta Indonesia” , Relawan Lentera Negeri mencoba memberikan sebuah metode pembelajaran kontekstual terhadap adik2 Sekolah Anak Negeri. Kegiatan yang menghadirkan adik2 dari 5 Kelas Binaan Lentera Negeri (BTP, Daya, Rappokalling, Gowa dan Antang) ini  ingin menunjukkan secara tersirat bahwa pendidikan berkaitan langsung dengan kehidupan dan pengalaman keseharian.

Untuk itu di EFD kali ini , Adik2 dari sekolah anak negeri tidak lagi dituntut untuk menyelesaikan soal tertulis, melainkan melakukan riset (eksperimen) yang sudah disiapkan oleh kakak2 Relawan di tiap posnya. Pos yang disiapkan juga memiliki ciri khas tersendiri. Ada pos yang memberikan pemahaman tentang Ilmu sains dan teknologi, ada pula pos yang memberikan pesan2 Moral kepada adik2 SAN , seperti pada pos Jepang, dimana adik2 SAN diberikan pemahaman tentang pentingnya perilaku anti korupsi dengan menghadirkan games Semai (Sembilan Nilai).

Dengan metode belajar sambil bermain seperti ini  mempertegas bahwa masalah2 sosial yg kita hadapi saat ini, seperti tindak kejahatan, masalah kuropsi, dan sebagainya adalah jauh lebih banyak dan lebih gawat dibandingkan dengan masa2 sebelumnya. Dengan demikian terdapat kebutuhan yg lebih besar untuk memecahkan permasalahan2 tersebut melalui proses pendidikan ulang. Pendidikan ulang, sbg suatu proses, tidak hanya mempengaruhi unsur2 kognitif (fakta, konsep, keyakinan) peserta didik, tetapi juga mengubah nilai2 (minat, perasaan, sikap).  Pendidikan ulang menjadi lebih efektif , tidak hanya melalui ungkapan lisani, tetapi juga melibatkan perubahan dari anutan nilai2 lama ke anutan nilai2 baru, serta penghayatan perilaku baru yg mempertegas anutan nilai2 tersebut.
Sekarang kita hidup dalam zaman peledakan pengetahuan yg menimbulkan perubahan2 sedemikian cepat. Kecepatan dan banyaknya perubahan dalam masyarakat tersebut telah menimbulkan pertanyaan yg meragukan teori pengalihan pengetahuan melalui sekolah.

Daripada sekadar mengalihkan yg kita ketahui, maka barangkali tujuan kita yg sesungguhnya adalah menumbuhkan dorongan dalam diri peserta didik keinginan untuk melakukan proses penemuan sepanjang hidupnya terhadap apa saja yg memang dibutuhkannya untuk diketahui. Mungkin saja kita tidak melihat hal itu sebagai pengalaman belajar atau sebagai suatu situasi belajar, justru karena pemahaman kita telah dibatasi oleh pandangan yg sempit bahwa pendidikan identik dengan sekolah. Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya belajar setiap saat. Oleh karena itu apa yang kita butuhkan adalah suatu proses pendidikan yg dapat membantu kita menghasilkan pengetahuan dari situasi kehidupan yg kita alami dalam kegiatan sehari2.
Oleh karena itu ada dua konsekuensi yg akan menyertai pandangan ini. Pertama, sekolah tidak lagi merupakan sebuah kegiatan yg terutama diperuntukkan hanya  bagi anak – anak tetapi kesadaran untuk terus belajar seumur hidup. Kedua, tanggung jawab untuk menetapkan apa yg harus diajarkan dan yang akan dipelajari beralih dari tangan pendidik ke tangan peserta didik. Karena pendidikan, sebagai suatu proses untuk memenuhi kebutuhan kita dengan pengalaman kita yg terus berubah.
Pendidikan sebagai suatu proses seumur hidup dengan demikian berlangsung sepanjang kegiatan manusia yg dilakukan secara sadar. Setiap yg kita lakukan selalu mengandung unsure belajar. Apa yang mereka pikirkan dan lakukan di masa lalu dan apa yang kita lakukan pada saat ini serta apa yang rencanakan untuk masa mendatang, semuanya menunjukkan proses belajar dengan cara melakukannya sekaligus. Proses belajar itu sendiri adalah pemahaman tentang bagaimana caranya belajar.  Setiap orang di antara kita sangat diharapkan untuk terus belajar agar dapat melaksanakan peranannya masing-masing  dengan baik di tengah masyarakat dan dalam komunitas dimana kita hidup.

 

 

Written By

Bintang Hadi Putra

Tinggalkan Balasan