Pe(u)ndi-dikan di Indonesia

“Pendidikan adalah suatu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, dimana pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya – Ki Hajar Dewantara”

Secara tersurat, Bapak Pendidikan Indonesia menjelaskan kepada kita secara gamblang bahwa pendidikan merupakan hal yang wajib diterima oleh setiap individu tanpa terkecuali dengan tujuan agar setiap individu dapat mencapai kebahagiaan hidup yang setinggi-tingginya. Realita pendidikan Indonesia saat ini adalah Indonesia mewajibkan semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan setinggi-tingginya dengan kondisi bahwa pendidikan dengan kualitas yang bagus harus dibayar. Menyikapi pernyataan diatas dan digabungkan dengan kondisi realita dunia pendidikan yang ada di Indonesia saat ini dapat ditarik dua kesimpulan. Kesimpulan pertama, Indonesia sudah mengetahui dan menjalankan apa definisi pendidikan itu sebenarnya dengan baik. Kesimpulan kedua, Indonesia belum membantu secara maksimal warga negara dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bagi masing-masing individu. Hal ini yang dapat dijadikan tolok ukur bahwa Indonesia khususnya pemerintah belum sukses membawa “kapal” pendidikan Indonesia ke “pulau impian” dengan baik, masih banyak kebocoran kapal serta kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh anak buah kapal yang berakibat fatal bagi kelangsungan perjalanan pendidikan Indonesia.

Masyarakat Indonesia saat ini sedang d14124511_10201927266579153_2885900450257380403_oilema dengan dua asumsi dasar tentang pendidikan yang sangat bertolak belakang, “Uang untuk Pendidikan” atau “Pendidikan untuk Uang”. Sebelum Indonesia terpengaruh hingar bingar dunia seperti saat ini, pemikiran bahwa orang bersekolah untuk membangun masa depan yang lebih baik menjadi acuan utama mengapa semua orang tua ingin menyekolahkan anaknya. Namun seiring pesatnya pengaruh kapitalisme yang berkembang di dunia, menjadi hal yang lumrah bagi pendidikan sebagai barang komersil yang bisa diperdagangkan dengan mudahnya. Bukan bermaksud naif bahwa manusia tidak membutuhkan uang untuk hidup, bahkan saya dengan sangat sadar mengetahui bahwa pahlawan tanpa tanda jasa tidak dapat bertahan hidup jika hanya mengandalkan keikhlasan dan kerelawanan hati mereka untuk mengajar. Tetapi mirisnya adalah banyak oknum yang melabeli diri mereka sebagai guru namun pekerjaan mereka sebenarnya adalah “penjual pendidikan”.

“Tidak benar menyalahkan pemerintah serta sekolah karena mereka pun sudah berbaik hati memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak Indonesia!!”

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pemerintah yang sudah memberikan saya pendidikan gratis serta sekolah yang menjadi tempat saya menimba ilmu, saya ingin mengatakan bahwa dalil pendidikan gratis hanya merupakan suatu bentuk pertahanan diri oleh pemerintah atas segala keluh kesah warga negara Indonesia tentang sistem pendidikan negara tercinta kita ini. Mengapa saya berkata demikian, perbandingan kualitas pendidikan gratis dengan pendidikan berbayar bak langit dan bumi. Tidak perlu membandingkan hal yang terlalu kelihatan seperti fasilitas atau sarana dan prasarana yang ada, mari kita mulai dari hal yang sederhana, prestasi. Bukan bermaksud mengurangi semangat siswa yang memperoleh pendidikan gratis dari pemerintah, namun faktanya adalah jawara-jawara olimpiade nasional maupun internasional hampir seluruhnya berasal dari sekolah berbayar baik itu swasta maupun negeri. Seperti hukum pemasaran, semakin terkenal atau bagus suatu barang di mata masyarakat, maka produsen akan dengan senang hati untuk menaikkan harga jual dari produk tersebut. Momen inilah yang dimanfaatkan oknum tertentu untuk memperoleh keuntungan yang besar, saya tidak menyalahkan pihak swasta karena memang mereka berbasis pendidikan berbayar, namun yang saya sayangkan adalah sekolah-sekolah negeri yang berbayar. Saya lagi-lagi paham bahwa peningkatan kualitas dan sebagainya membutuhkan biaya, tetapi terlalu jahat rasanya jika harus menimbulkan perbedaan dalam suatu golongan pendidikan yang sama.

Saya pribadi sadar bahwa bukan kapasitas saya untuk mengeluarkan peraturan baru terhadap dunia pendidikan Indonesia saat ini, namun saya punya beberapa saran yang mungkin akan sedikit membantu mengurangi masalah yang ada. Satu, saya ingin menyarankan pemerintah lebih tegas menyikapi oknum yang menjadikan pedidikan sebagai barang komersil, hal ini mungkin sepele tetapi akan berakibat fatal kedepannya, atau mungkin bahkan pemerintah sendiri yang mengkomersilkan pendidikan?!. Kedua, jika memang harus menerapkan sistem pendidikan berbayar, sebaiknya penentuan harga pendidikan pada setiap sekolah jangan ditentukan oleh pihak sekolah masing-masing tetapi oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah regional sekolah itu berada agar tidak terjadi perbedaan biaya pendidikan yang terlalu signifikan. Terakhir, peningkatan kualitas pendidikan gratis sangat diperlukan. Sangat sedih rasanya jika adik-adik saya yang memperoleh pendidikan gratis tidak pernah sekalipun merasakan bangganya berdiri di atas podium berkalungkan medali kemenangan.

 

 

Written By :

 img_7753

Lukas Jhon Sulo Palayukan 

Relawan Lentera Negeri

Tinggalkan Balasan